Sedu sedan Cinta Bag 2.

Sedu sedan Cinta Bag 2.
5 tahun lalu, sebagai puteri ayah yang masih hidup, aku mewarisi harta dan juga hutang yang tinggalkannya.  Perkebunan kopi yang hanya 5 hektare, adalah sumber penghidupan yang utama. Dari hasil kebun itu aku menafkahi hidupku dan membayar hutang-hutang ayahku. Tapi tahun ini, cuaca ekstrim telah menihilkan harapan panen. Hutang peninggalan ayah dengan susah payah berusaha aku bayar. Sayangnya, hingga mendekati jatuh tempo aku tidak bisa mendapatkan dana talangan untuk melunasi hutang. Segala daya upaya ku lakukan. Salah satunya adalah menemui pemberi hutang.

Jalalludin Khumayun, hanyalah sebuah nama bagiku. Tak pernah menemuinya secara langsung. Tapi untuk meminta penangguhan pembayaran hutang ini dia memberi syarat agar aku datang sendiri menemuinya dan berunding 4 mata. Aku tak punya pilihan lain selain menerima syaratnya. 

Maka di sinilah aku sekarang. Duduk menunggu di teras sebuah rumah besar yang sangat terkenal. Dulu ayah pernah memberitahuku kalau tuan Khumayun Tua adalah seorang yang budiman dan dermawan. Keduanya berteman. Meski tidak begitu dekat tapi cukup akrab. Ketika ayah terkena musibah dan membutuhkan dana yang sangat besar, Tuan Khumayun menawarkan bantuan dan memberi pinjaman. Beliau meminta ayah membayar pinjaman itu dengan cara mengangsurnya setiap tahun dalam jangka waktu 20 tahun.  Dengan catatan jika dalam waktu 10 tahun ayah tidak bisa melunasi hutangnya, maka tanah perkebunan akan di ambil alih, dan ayah mendapat pembayaran penuh sebesar hutang yang di pinjamnya. 




Bag 3

Tambahkan Komentar Sembunyikan

more Quotes